Laman

Jumat, 10 Agustus 2012

PRESTASI = NILAI TINGGI = RANKING???

Saya adalah termasuk korban dari pandangan orang bahwa nilai mencerminkan prestasi seseorang.
Juara 1 LCT Bidang Komputer
Tingkat SMU
by Perguruan Tinggi Teknokrat

Jika saya bukan seorang guru, walau cuma guru bimbel, mungkin sampai sekarang saya tidak tahu bahwa banyak sekali orang tua murid yang bukan menginginkan anaknya mengerti tentang pelajarannya di sekolah. Mereka hanya menginginkan anaknya di sekolah memperoleh nilai yang tinggi bahkan dengan predikat peringkat 1 atau ranking 1. Apakah anak yang mendapat ranking termasuk anak yang pandai dan berprestasi??? Jawabnya adalah: belum tentu!!! Banyak siswa yang ketika SD selalu ranking, tetapi begitu masuk SMP menjadi anjlok nilainya bahkan tidak naik kelas!!! Apa penyebabnya???




Mungkin saya termasuk guru yang nekad dan unik. Nekad, karena saya sama sekali tidak pernah bersekolah di bidang pendidikan/keguruan (karena itu saya tidak bisa menjadi guru di sekolah formal). Mata pelajaran utama yang saya ajarkan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Unik, karena dalam mengajar saya tak pernah menganjurkan siswa saya untuk menghapal tapi menekankan untuk mengerti dan lebih banyak menerangkan konsep, mengerjakan soal-soal (terutama matematika). Saya selalu mengulang-ulang penjelasan saya sampai siswa benar-benar mengerti (bukan memerintahkan mereka untuk menghapal, kecuali pelajaran tertentu). Praktis saya jarang sekali memberi catatan atau rangkuman pada semua murid saya. Saya selalu menjelaskan bahan pelajaran dengan cara-cara yang berbeda dengan  guru kebanyakan, sehingga ada beberapa murid saya yang menganggap saya tak becus mengajar, guru yang bodoh dan berhenti dari bimbel saya. Saya dianggap mengajar dengan cara-cara kuno, karena metode saya tidak pernah mereka dapat dari guru-guru mereka. Mereka beranggapan jika masih terus belajar di bawah bimbingan saya, tidak akan pernah mendapat ranking.

Padahal tahukah pembaca??? Murid saya slalu bertambah setiap tahunnya walau tidak sampai membludak. Saya termasuk guru yang cukup mahal di daerah saya jika dilihat dari pengalaman mengajar. Saya memasang tarif hampir sama dengan para guru bimbel lain yang nyata-nyata muridnya sudah puluhan bahkan ratusan!!! Dan apakah anda juga tahu pembaca??? Mereka seringkali menawar sebelum masuk pada bimbel saya??? hehe...
Untuk sebuah pendidikan tidak ada harga yang pasti. sebuah output dari proses belajar-mengajar tak ternilai harganya, apalagi jika mengajar anak yang di bawah standar dan ternyata sukses!!!

Dalam mengajar saya tak pernah mengadakan test, apakah calon siswa termasuk anak yang pandai? Hanya satu hal yang saya tanyakan. Apakah ia benar-benar ingin belajar? Setelah menjadi murid saya dan kemauan belajarnya tak ada, tak segan-segan saya mengusirnya pulang. Saya sama sekali tidak pernah menghukum atau memukul. Paling-paling saya usir pulang.

Ada beberapa ortu yang protes pada saya dan akhirnya memberhentikan anaknya dari bimbel saya karena menurut mereka tak ada perkembangan. Inilah penyakit orang tua, selalu saja ingin instant, serba cepat. Baru 3 bulan mengikuti bimbel ingin anaknya pandai dalam segala hal. Aneh bukan??? Belajar adalah sebuah proses. hasilnya tidak dapat terlihat dalam waktu sekejap, seperti halnya kalau kita makan yang akan langsung terasa kenyang. Belajar perlu waktu yang tidak sebentar. Apalagi bagi anak-anak dengan kemampuan yang standar atau bahkan di bawah rata-rata. Seorang Thomas Alfa Edison saja perlu waktu bertahun-tahun menghasilkan temuannya. Satu lagi, mereka selalu saja mengukur kepandaian dari nilai yang didapat di sekolah. Tahukah anda, kepandaian tak dapat diukur dari nilai-nilai siswa di sekolah. 

Saya mengajar siswa dari berbagai sekolah. Saat ini ada 5 sekolah swasta yang berbeda, mulai dari TK B - SMP kelas 9. Tentu setiap sekolah punya aturan sendiri dalam proses belajar-mengajar. Bagaimana tidak unik??? Saya tidak menerima siswa yang orang tuanya berambisi agar nilai anaknya meningkat dan mendapat ranking. Ada satu sekolah (SD) swasta yang kebanyakan siswanya saya tolak ikut bimbel di tempat saya, kalau tetap ngotot saya hanya bersedia mengajar matematika padanya. 

Mengapa??? Karena mereka kebanyakan menuntut agar saya, guru bimbelnya mengajar persis sama dengan guru sekolahnya, yaitu menghapal point-point rangkuman (rangkuman yang diberi nomor urut) tanpa memahami konsepnya. Bahkan pelajaran matematika pun mereka disuruh menghapal!!! Saya angkat tangan!!! tidak sanggup!!! Anak saya pun sekolah di Sekolah Swasta ini yang katanya sekolah terfavorit dan lumayan mahal biayanya. Ada 1 siswa sekolah dasar tersebut yang belajar dengan saya, itupun cuma matematika yang saya sanggupi, karena saya pikir matematika adalah ilmu pasti yang tidak mungkin berbeda dalam setiap bahasannya dibandingkan dengan KTSP atau kurikulum standar pemerintah. Karena buku pegangan saya semua adalah BSE. Di awal mengikuti bimbel saya, saya diprotes berkali-kali oleh siswa saya tersebut karena metode saya mengajar sangat jauh berbeda dengan gurunya. Saya slalu menekankan bahwa matematika bukan sekedar pelajaran berhitung, bukan hapalan, dan matematika itu mudah. Soal-soal matematika akan terasa sulit jika kebanyakan menghitung. Padahal angka yang ada pada pelajaran matematika tidak lebih dari 10, sama dengan jumlah jari tangan kita.  Angka yang muncul pada setiap soal matematika selalu itu-itu saja.

Sudah memasuki semerter ke 3 siswa saya tersebut belajar dengan saya. Dia mulai menyadari ternyata matematika memang mudah. Ia mulai paham dan bisa mengikuti apa yang saya ajarkan.

Banyak para ortu yang tidak percaya pada kemampuan saya dalam mengajar. Mereka tidak berani mengirim anaknya belajar pada saya mungkin karena ke 3 anak saya tidak ada yang pandai di sekolah atau pun mendapat ranking untuk saat ini. Atau saya belum bisa menetaskan anak-anak bodoh menjadi anak ranking di sekolah. Atau juga karena saya belum pengalaman, karena saya baru sekitar 2 tahun memberikan bimbel. Belajar tidak seperti makan yang langsung terasa kenyang sesudahnya. Belajar tak langsung nampak hasilnya. 

Di daerah saya bimbel yang dikejar-kejar siswa sekolah dasar swasta itu adalah jika bimbel itu bisa memberikan soal-soal yang sama persis dengan soal-soal ulangan di sekolah tersebut. Mati saya!!! Buku paketnya (kls 1,2,3) apa, saya tidak tahu. Semua dari catatan guru. Gimana saya tahu otak gurunya??? Bahkan ada satu bimbel terkenal saja dianggap jelek karena apa yang diajarkan jauh berbeda.

Ranking 1

Saya pernah tanyakan pada anak saya, "kok kamu ga bisa dapet ranking 1 seperti temanmu itu?"

Apa jawaban anak saya yang baru kelas 3 SD itu? "Mami, gimana aku bisa dapet ranking? dia semua les, les matematika (sakamoto), les B. Inggris, les B. Mandarin, les semua pelajaran, les menggambar. Semua les. Aku??? Aku kan ga les sama sekali. Kata mami aku harus belajar sendiri, belajar mandiri."

Bayangkan!!! Berapa biaya yang dikeluarkan untuk semua itu? Berapa banyak waktu luang bagi si anak untuk bermain? Setiap hari hanya belajar dan belajar!!! Apakah seperti itu keingingan ortu? Ambisi ortu atau karena ingin masa depan anaknya jadi cemerlang?

Ada satu contoh, seorang anak perempuan yang sekarang kuliah di Universitas Tarumanegara       
semester akhir. Sewaktu SD dia bukan termasuk anak yang pandai apalagi dapat ranking 1. Tapi begitu dia SMP-SMU, dia selalu masuk peringkat 10 besar di sekolahnya. Saat ini ia sudah beberapa kali mendapat beasiswa dari kampusnya karena IPnya selalu di atas 3,5. Tahukah anda apa yang dia lakukan??? Apakah ikut bimbel sana sini??? Bukan!!! Semua itu adalah hasil ketekunannya dalam belajar.

Bagi anda ortu dengan anak yang tidak pandai, tidak usah kecewa. Prestasi tidak dapat diukur dari nilai. Jangan kecewa karena nilai anak anda kecil. Anak yang ranking belum tentu anak yang benar-benar pandai. Albert Einstein sewaktu sekolah dianggap lamban dan bodoh oleh para gurunya. Ia benci sekolah karena menganggap sekolah terlalu kaku, formal dan disiplin. Para guru akan marah jika ia banyak bertanya. kenyataannya ia termasuk salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia ini. Dan ia termasuk kategori orang yang genius. 

Begitulah orang yang pintar, selalu ingin sesuatu yang baru. Ia akan bosan dengan yang itu-itu saja. Para guru cenderung tidak suka pada anak yang seperti itu. Karena anak seperti itu akan selalu bikin ulah jika gurunya membosankan. Banyak protes dan merepotkan sang guru. Bahkan bisa mempermalukan guru di depan kelas. Guru tidak suka itu, maka keluarlah 2 pasal (kata salah satu siswa saya yang sangat kreatif dan ia cenderung ingin sesuatu yang baru dan ia slalu buat ulah di sekolahnya).
Pasal 1. Guru tidak pernah salah
Pasal 2. Jika salah, kembali ke pasal 1.
Bayangkan! Seorang siswa sampai berkata seperti itu. Apakah seorang guru adalah orang yang tidak pernah salah? Perlu dicatat, seorang guru bukan berarti dia pandai, tapi ia lebih cenderung bisa mengajar. Setelah siswanya mengerti, bukan tidak mungkin si siswa menjadi lebih pandai dari gurunya.
Siswa tersebut bahkah dicap oleh guru Bahasa Indonesianya termasuk anak yang bodoh!!! Ini yang bodoh gurunya atau muridnya ya? 

Setiap anak punya potensi sendiri-sendiri tidak bisa disamakan dengan anak yang lain. Walau secara akademik nilai-nilainya tidak terlalu baik, belum tentu si anak termasuk anak yang bodoh! Anda bisa menilai anak-anak anda sendiri, termasuk anak yang bodoh atau bukan dari hobinya. Hobi??? Dengan tegas saya katakan YA!. Ciri anak pandai adalah dia hobi membaca!!! Para tokoh besar mereka semua hobi membaca buku, seperti Einstein, Socrates, Isaac Newton, Hitler, Bung Karno. dll. Jika saja anak anda sama sekali tidak hobi membaca buku, anda perlu waspada! Karena buku adalah sumber ilmu, kita bisa pandai, semuanya dari buku. Satu lagi ciri anak pandai yang mudah dikenali, ia hobi bereksperimen dan hal-hal yang baru. Tahukah anda? Einstein seringkali bolos sekolah karena hanya ingin membaca dan bereksperimen. Ia menganggap sekolah buang-buang waktu saja dan mengganggu hobinya. Walau selanjutnya ia pindah sekolah dan di sekolah yang baru ia mengganggap para gurunya lebih ramah dan terbuka menerimanya.

Saya bisa mengajar berkat hobi saya membaca. Bukan hanya karena sekolah. Bagaimana mungkin saya yang berlatar belakang kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi malah mengajar Matematika dan Fisika (untuk SMP)?  Kalau tidak hobi membaca, bagaimana saya bisa mengajar. Bagaimana saya bisa tahu tekhnik mengajar? Berkali-kali siswa saya meminta saya melamar dan mengajar di sekolahnya, berkali-kali saya menjawab, saya tidak punya izasah guru. Inilah yang saya katakan saya adalah korban dari pandangan orang bahwa nilai/ijazah, secarik kertas mencerminkan prestasi. Padahal banyak orang yang berijazah guru atau yang menjadi guru tapi tidak bisa mengajar dengan baik. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar